Sebut 75% Rakyat Stress, Survei Celios Salah Kaprah
Survei yang dilakukan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) kembali menjadi bahan perbincangan publik, terutama karena hasilnya digunakan untuk menggambarkan persepsi masyarakat terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Namun, sebelum hasil survei tersebut dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan mengenai kondisi masyarakat Indonesia secara luas, metodologi penelitian perlu menjadi bagian penting dalam membaca temuannya.
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan, survei dilakukan secara daring dengan merekrut responden melalui iklan di platform Meta dan melibatkan 1.122 responden. Jumlah tersebut memang cukup besar untuk sebuah survei opini, tetapi ukuran sampel saja tidak otomatis menentukan apakah hasil penelitian dapat merepresentasikan keseluruhan populasi.
Persoalan utama terletak pada bagaimana responden diperoleh. Rekrutmen melalui iklan media sosial memiliki karakteristik berbeda dengan probability sampling, ketika setiap anggota populasi sasaran memiliki peluang yang diketahui untuk terpilih menjadi responden. Dalam metode berbasis rekrutmen daring, terdapat kemungkinan kelompok tertentu lebih mudah terjangkau dibandingkan kelompok lainnya, terutama mereka yang aktif menggunakan internet dan media sosial.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan sampling bias. Bukan berarti hasil survei otomatis salah, tetapi komposisi responden perlu dibandingkan dengan karakteristik populasi yang hendak digambarkan. Faktor seperti usia, wilayah tempat tinggal, pendidikan, tingkat penggunaan internet, serta karakteristik sosial ekonomi dapat memengaruhi siapa yang akhirnya berpartisipasi.
Selain itu, terdapat kemungkinan self-selection bias. Responden yang memiliki perhatian atau pandangan kuat terhadap isu politik tertentu dapat lebih terdorong untuk mengikuti survei ketika menemukan iklan yang menawarkan kesempatan berpartisipasi. Akibatnya, distribusi opini responden belum tentu sama dengan distribusi opini masyarakat secara keseluruhan.
Aspek lain yang juga penting adalah transparansi mengenai proses pengendalian kualitas data. Survei daring idealnya memiliki mekanisme untuk memastikan tidak terjadi pengisian berulang, respons tidak valid, maupun pola jawaban yang tidak wajar. Informasi mengenai proses verifikasi, penyaringan responden, dan pembobotan menjadi penting agar publik dapat menilai kualitas data secara lebih menyeluruh.
Karena itu, angka 1.122 responden sebaiknya tidak dibaca secara terpisah dari metode pengambilan sampelnya. Dalam penelitian opini publik, kualitas representasi lebih penting daripada sekadar jumlah responden. Sampel yang besar tetapi tidak representatif tetap memiliki keterbatasan ketika digunakan untuk melakukan generalisasi terhadap seluruh populasi.
Meski demikian, keterbatasan tersebut juga tidak berarti survei dengan metode nonprobabilitas tidak memiliki nilai. Survei daring tetap dapat memberikan informasi mengenai pandangan kelompok responden yang berhasil dijangkau dan dapat menjadi salah satu sumber untuk membaca dinamika opini publik. Yang perlu diperhatikan adalah batas kesimpulan yang dapat ditarik dari data tersebut.
Hal yang sama berlaku ketika hasil survei digunakan untuk menilai kinerja pemerintah. Persepsi publik merupakan salah satu indikator yang penting, tetapi sebaiknya dibaca bersama indikator lain, seperti pertumbuhan ekonomi, daya beli, lapangan kerja, harga kebutuhan pokok, kualitas pelayanan publik, serta capaian program pemerintah.
Dengan pendekatan tersebut, kritik terhadap survei CELIOS tidak perlu diarahkan untuk menolak hasil penelitian sejak awal. Kritik justru diperlukan agar publik memahami bagaimana data diperoleh, siapa yang menjadi responden, seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasikan, serta apa saja keterbatasan yang melekat pada desain penelitian.
Pada akhirnya, survei merupakan alat untuk membantu memahami opini masyarakat, bukan satu-satunya ukuran untuk menentukan kondisi bangsa. Semakin terbuka metodologi, proses pengambilan sampel, karakteristik responden, dan keterbatasan penelitian, semakin mudah pula publik menempatkan hasil survei secara proporsional.
Dengan demikian, hasil survei CELIOS sebaiknya dibaca sebagai salah satu sumber informasi mengenai persepsi responden yang diteliti, sembari tetap mencermati keterbatasan metode rekrutmen daring melalui iklan Meta. Sikap kritis terhadap metodologi bukan bentuk penolakan terhadap penelitian, melainkan bagian dari upaya menjaga agar kesimpulan publik tetap sejalan dengan kekuatan bukti yang tersedia.





